Rm. Patricius Mutirara Andalas, SJ

Tanggapan Teolog & Pemerhati Seni 

PELANGI KEBERAGAMAN

mutiraraKeberagaman mengemuka sebagai tema besar dalam lukisan-lukisan yang rencananya menghiasi ruang galleri pameran. Harmoni ragam warna menyampaikan pesan kuat mengenainya.  Keberagaman juga tersirat dalam subyek pelukis dan lukisannya. Para pelukis merentang perhatian kita pada keragaman ciptaan ekologi. Manusia, binatang, tumbuhan, dan ciptaan-ciptaan lain yang membentuk jejaring ekologi menjadi obyek lukisan.

Minoritas ekonomi, seperti petani, nelayan dan ciptaan-ciptaan alam, rentan menjadi korban dalam kebijakan ekonomi yang meminggirkan, bahkan meninggalkannya. Tragedinya, pekerjaan menjadi sekaligus sumber kehidupan sekaligus penderitaan hidup yang disimbolkan oleh salib Yesus. Ketika negara gagal melindungi rakyat, mereka yang memanggul salib kontemporer ini berseru kepada Allah, “Berilah kami rezeki pada hari ini.”

Organisasi-organisasi masyarakat tertentu menggerahkan bumi Indonesia karena memungkiri keberagaman sebagai fondasi hidup bersama. Mengusung ideologi keseragaman, mereka mengkapling-kapling ruang-ruang bersama dan mendaku kepemilikan tunggal atasnya. Diskriminasi rasial, salah satu dosa berat dalam kehidupan politik Indonesia terhadap subyek rasial (the racialized other), masuk dalam perhatian para pelukis. Lukisan-lukisan mereka meneriakkan protes.

Di tengah karut-marut hidup kita sebagai bangsa bahkan setelah era reformasi, angin segar berhembus dari arah Sragen. Di langit Sragen kita melihat pelangi keberagaman.  Dalam dialog dengan komunitas-komunitas beriman lain dan semua pihak yang berkehendak baik, Gereja St. Perawan Maria Lourdes merengkuh keberagaman sebagai kekayaan hidup bersama.  Mereka menolak penyalahgunaan ayat-ayat Kitab Suci atau ideologi politik untuk perilaku intoleran terhadap yang lain.

Penghargaan kepada seniwan-wati dalam menyimbolkan kehidupan Allah, kehati-hatian terhadap pembelokannya, dan dalam kasus-kasus tertentu ketakutannya, melukis dinamika perengkuhan seni dalam rahim gereja Katolik. Gereja beranjak dewasa dalam menyadari kuasa seni lukisan, ciptaan kebudayaan, dalam menyimbolkan Allah. Lukisan-lukisan yang sepintas di mata kita sekular, pada kedalamannya, menghadirkan, mentransparankan, dan menghantar kita kepada Allah.

Almarhum pelukis Vincent van Gogh (1853-1890) pernah bertutur, “great things are done by a series of small things brought together.” Pesan serupa menyirat dari keterbukaan hati Gereja St. Perawan Maria Lourdes kepada para pelukis berlatar belakang agama dan kepercayaan yang beragam.  Bahkan, sebelum menilai karya-karya mereka, kebersamaan mereka melukis pelangi keberagaman. Serangkaian hal biasa menjadi luar biasa ketika kita mempertemukannya.

Rm. Patricius Mutirara Andalas, SJ

Pengajar di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s